Thursday, October 23, 2014

AYAH JUGA LUPA

Dengar, Nak: Ayah mengatakan ini pada saat kah terbaring tidur, sebelah tangan kecil merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu, ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri pembaringanmu.

Ada hal - hal yang Ayah pikirkan, Nak: Ayah selama ini bersikap Kaspar kepadamu. Ayah membentakmu ketika kah sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau coma menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau meletakkan sikumu di atas meja. Kah mengoleskan mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, "selamat jalan, ayah!" Dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab, "Tegakkan bahumu!"

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedan bermain kelereng. Ada lubang - lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan kawan - kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. Kaus kaki mahal - dan kalau kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati - hati! Bayangkan itu, Nak, itu keluar dari pikiran seorang ayah!

Apakah kah ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus memandang koran, tidal sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu - ragu di depan pintu. "Kau mau apa?" semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau melempar tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan - tanganmu yang kecil semakin erat me luk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekalipun tidak akan mampu melemahkannya. Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam menemukan kesalahan, dalam mencerca - ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap terlalu banyak dari masa  muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kau pengukur dari tahun - tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar sifatmu. Hati mungil milikmu sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit - bukit luas. Semua ini kau tunjukkan dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah Sudah berlutut disana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah; Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal - hal seperti ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi ayah sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata - kata tidak sabar keluar dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkan kata ini seolah - seolah sebuah ritual: "Dia cuma seorang anak kecil  - anak lelaki kecil!

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah memandangmu sekarang, Nak, meringkuk berbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu berada di bahu ibumu. Ayah sudah memintamu terlalu banyak, sungguh terlalu banyak. ~ W. Livingstone Larned

"Untuk benar - benar mengenal semua, kita harus memaafkan semua." ~ Dale Carnegie

Senja di Monginsidi. 23/10/2014.

Wednesday, August 13, 2014

Mara

Namanya Mara. Seorang kakak yang manis. Adik yang sedang digendongnya itu pun tak kalah manisnya.

Mereka bersama dengan sejumlah orang lainnya sedang berkumpul dan bermain di sebuah lapangan desa. Lapangan rumput yang biasa digunakan warga kampung untuk menghabiskan waktu senggang.

Disana banyak orang. Tidak hanya anak - anak tetapi juga orang tua. Di satu sudut lapangan, seorang ayah dan gadis kecilnya bersenda gurau. Gadis itu terbahak - bahak saat ayahnya melambungkannya ke udara ataupun berpura - pura mengejarnya. Pemandangan itu indah sekali.

Di satu sudut yang lain. Mara memperhatikan ayah beranak itu. Adiknya tak peduli dengan apa yang menarik perhatian Mara. Dia asik bermain dengan batu - batu kecil.

Pandangan Mara tidak lepas dari mereka. Ayah beranak itu bahagia sekali. Saling memeluk dan mencium. Sang ayah tidak sedikitpun membiarkan anaknya terluka dari apapun. Dia menjaganya dengan penuh perhatian.

Mata Mara tiba - tiba berlinang. Hatinya nelangsa. Mungkin lebih tepatnya tersayat. Emosinya terusik. Dia kemudian bangkit dan menggendong adiknya, membawanya pulang. Dia berjalan dengan cepat dengan dada menyesak.

Sesampainya di rumah, Mara tak tahan menahan tangis. Emosinya meledak lewat air matanya yang terus jatuh. Sang adik yang masih digendongannya bingung, mungkin iba ntah pun takut melihat kakaknya menangis. Tanpa alasan yang jelas, ia pun menangis.

Melihat kedua anaknya menangis, ibu mereka bertanya, "kenapa kalian nangis?" Mara menjawab, "Anak itu sangat disayang sama ayahnya. Tapi adik kok enggak..."

Ibu itu hanya diam. Kepalanya tertunduk dan berusaha menyembunyikan emosi yang terpancar dari rawut wajahnya saat itu dari Mara yang masih senggugukan.

Pematang Sijago, di suatu petang.

Thursday, June 19, 2014

ANITA


Wanita itu menangis tanpa suara. Air matanya mengalir bersama derasnya air hujan yang menghantam kepalanya. Gelapnya dini hari kian menambah sendu. Air matanya mengalir lebih deras, seolah tak mau kalah dengan air hujan.

Dingin. Udara pagi dan hujan itu membekukan kakinya. Wanita itu terus berpacu di atas tanah berlumpur bercampur kerikil. Tali sendal swallow yang digunakannya nyaris putus. Kerikil - kerikil kecil nan tajam terus menghujam kakinya dari balik tapak sendal yang telah menipis.

Mulutnya terkatup, mungkin menahan agar air hujan tak semakin banyak masuk. Lututnya menggigil, namun hatinya tak mau dikalahkan oleh keadaan yang begitu kejam. Tubuh gempal wanita berusia kepala empat itu hampir roboh menahan beban.

'Harus sampai'. Ia harus bergegas, ikan dalam petinya harus segera dijajakan. Mata hari mulai menyembul dari kejauhan timur. Jika terlambat barang sebentar saja, maka pelanggannya akan meninggalkannya. Namun sepeda motor butut yang tinggal kerangka - hampir menyerupai sepeda dayung itu, sedang "ngambek". Mungkin terlalu letih menuruti kemauan wanita itu.

Matahari telah terbit. Pasar itu sudah sepi. Wanita itu menyusun ikan - ikannya di atas lapaknya. Sekian lama menanti, pembeli tak juga kunjung datang. Mata hari pun kian meninggi. Bajunya sudah kering di badan. Lalat hijau mulai menghampiri ikan - ikannya.

Hatinya kembali nelangsa. Namun stok air matanya telah habis. Ikan - ikan itu tidak laku. Tak ada duit untuk membayar pada taukeh ikan. Tapi itu tak masalah, ia masih bisa berkelit dari hujatan. Yang jadi masalah adalah perut ketiga anaknya yang menanti di rumah.

Kenyataan ini membuatnya takut kembali ke rumah. Takut melihat anaknya merengek karena sakit menahan lapar. Takut dirinya tak sanggup menahan duka dalam rumah yang hampir roboh itu. Hatinya menghujat, ntah siapa. Mungkin ayah anak - anaknya yang ntah dimana, mungkin juga Tuhan.

'Jika aku terlalu berdosa untuk Kau tolong, maka tolonglah anak - anakku yang masih bersih dari dosa. Mereka hanya ingin makan, hanya ingin hidup sampai besar. Ingin melihat betapa indah dan kayanya duniaMu. Walau tak dapat menikmati itu semua, paling tidak mereka dapat turut bahagia melihat pejabat - pejabat kaya, koruptor - koruptor itu tertawa bahagia. Dan jika beruntung dapat melihat mereka mati kekenyangan memakan duit haram'

Anita menguatkan hati, menegakkan kepala, mendorong kembali motor butut itu menuju rumah reoknya. Dimana tiga anak kecil menunggu dengan rasa lapar yang memerih hulu hati.

Wednesday, April 16, 2014

BUNTING

Perempuan bunting itu merenung. Hampir menghiraukan panggilan pembeli yang telah lama berdiri di depan stellingnya. Dirinya baru tersadar ketika seorang perempuan lainnya menepuk pundaknya. Tersentak, ia pun lantas melayani pembeli yang bermuka merah karena marah akibat menahan lapar dan amarah terlalu lama menunggu.

Setelah melayani pembeli, perempuan bunting itu kembali ke tempat duduknya. Menatap kosong ke depan, mengelus perut yang membuncit. Terpahat raut resah di wajahnya. Kening berkerut, mata menyipit dan menyayu, nafas terhembus dengan hentakan dalam.

Tak berapa jauh darinya, perempuan yang tadi menepuk pundaknya menatap dengan mata yang penuh tanda tanya. Ia datang dan duduk persis di sebelah perempuan bunting itu.

"Ada apa?" kata perempuan itu. Tanyanya hanya dijawab tawa terpaksa oleh si perempuan bunting.

"Belum waktunya kan?" tanyanya lagi. Usia kandungan perempuan itu baru memasuki bulan ke - enam.

"Belum," jawab si bunting.

"Jadi?"

"Lihat itu kucing, perasaan baru - baru saja bunting, sekarang sudah bunting lagi," sahut si Bunting menghiraukan pertanyaan perempuan itu.

"Sama donk kayak situ,"

"Bedalah, si abangnya kan udah besar baru dikasih adek," kata si Bunting.

"Ada masalah? Kok dari tadi aku perhatikan mukamu kayak ikan cucut," tanyanya lagi tanpa putus asa.

"Hhhmm, janinku perempuan," jawabnya.

"Lantas?"

"Aku takut," jawabya.

"Takut apa?"

"Suamiku kurang suka anak perempuan,"

"Kenapa begitu?"

"Katanya ngurus anak perempuan itu repot. Apalagi anak perempuan itu cengeng, suka nangis. Dia tidak suka dengar anak - anak menangis,"

"Memangnya ada anak bayi yang tidak menangis?" timpal perempuan itu dengan kening berkerut.

"Ya tidak. Dulu si abang - an juga menangis, aku disemprot habis - habisan kalau si abang nangis dekat ayahnya. Sekarang dia sudah wanti - wanti aku jangan sampai ada suara tangisan kalau dia sedang di rumah," jawabnya.

Kedua wanita itu terdiam. Masing - masing menatap kosong ke udara. Terdiam sesaat.

"Laki - laki memang anjing," kata perempuan itu sambil berlalu meninggalkan perempuan bunting itu sendirian.

Friday, March 28, 2014

Pertarungan Hidup Dua Anak Manusia

Ruang Isolasi RSUD Pirngadi Medan

November 2010. Di satu sudut bangsal isolasi Pirngadi, seorang bocah laki - laki kurus kering menangis sedu sedan. Tangisnya diiringi batuk tiada berjeda, menggoncang tubuh kurus kering milik bocah berusia 7 tahun itu. Ruang isolasi yang kecil dan panas membuat nafasnya kian sesak. Perawat berlalu lalang, hanya melihat kemudian berlalu.

Batuk yang diderita bocah itu tergolong akut, namun tidak pernah diobati. Nando hanya meminum arv dan vitamin anak - anak. Tidak pernah diperiksakan secara khusus ke rumah sakit. Tidak ada penanganan serius.

Tubuh bocah itu dihindari, bahkan ditakuti oleh banyak orang. Yang iba hanya berani melihat dari kejauhan tanpa berani sedikitpun mendekat. Tubuh yang tinggal tulang berbalut kulit itu bersarang virus mematikan, HIV/AIDS.

Namanya, Nando (samaran). Nando sedih ditinggal dan menunggu terlalu lama kakaknya Indri (samaran). Indri adalah satu - satunya keluarga yang dimiliki Nando. Kedua orang tuanya meninggal dalam waktu selang waktu tak terlalu lama karena mengidap virus serupa. Ibunya pergi lebih dulu pada tahun 2007, empat tahun setelah melahirkan Nando. Ayahnya kemudian menyusul tahun 2009.

Indri tak punya pilihan, ia terpaksa meninggalkan sang adik untuk mengikuti ujian akhir nasional tingkat SMA. Nando sendirian untuk waktu yang cukup lama. Hanya Indri yang mengerti segala kebutuhan Nando, begitu juga pikiran dan perasaannya. Hanya Indri yang dapat mendamaikan hati sang adik dan melupakan sejenak virus yang terus menggerogoti tubuhnya.

Nando lahir tanggal 29 April 2003. Ahhh senangnya, sebentar lagi Nando akan berulang tahun yang ke - 11. Tubuh Nando relatif lebih kecil untuk anak - anak seusianya, tetapi semangat Nando tidak pernah bisa dibandingkan dengan siapapun.

Nando selalu tersenyum dan tertawa apalagi jika Indri berada di sampingnya. Nando anak yang licah dan mudah bergaul. Namun, sejak meninggalkan sekolahnya di bangku kelas 2 SD, Nando tidak bebas bermain dan memiliki banyak teman lagi. Tubuhnya tak cukup kuat bersekolah. Indri dan Nando adalah dua anak manusia yang diciptakan Tuhan untuk menegur manusia - manusia pengeluh di muka bumi ini.

Indri dan Nando hidup mandiri dalam segala keterbatasan dan kekurangan. Baik Indri dan Nando tidak pernah memelas iba kepada siapapun. Bahkan pada sanak saudara yang seharusnya menanggung jawabi hidup mereka. Yang seharusnya menjadi tumpuan hidup dan keluarga baru menggantikan ayah dan ibu mereka yang telah pergi.

Indri dan Nando tak pernah mengutuk keadaan, apalagi menghujat saudara yang menolak dan mengusir keduanya dari rumah mewah mereka. Indri dan Nando tetap menyayangi dan menghormati mereka.

Hidup Berpindah - pindah

Indri dan Nando hidup berpindah - pindah. Dari satu rumah ke rumah lain. Tempat tinggal adalah satu persoalan dari sekian persoalan yang mereka hadapi. Indri, adalah kakak yang luar biasa, dengan jerih payahnya sendiri, Indri berusaha membiayai hidup dan membayar kontrakan rumah dengan peluhnya sendiri.

Tuhan tak pernah diam dan membiarkan dua anak luar biasa ini menghadapi cobaan hidup sendirian. Ada saja pertolangan yang diberikannya lewat orang - orang yang tak terduga.

Indri dan Nando memiliki keluarga yang benar - benar peduli dengan mereka. Meski keluarga itu tidak memiliki pertalian darah sama sekali dengan mereka. Indri dan Nando memiliki kakak - kakak dari sebuah komunitas jurnalis perempuan di Medan. Di rumah - rumah kakak - kakak jurnalis inilah, Indri dan Nando pernah tinggal.

Namun sekarang Indri dan Nando tinggal di rumah kontrakan yang berada persis di belakang rumah milik saudara dekatnya. Saudara dekatnya itu, menolak Indri dan Nando tinggal di rumah besar miliknya.

Berkat perkenalan dengan kakak - kakak jurnalis pada November 2010, perawatan Nando mulai mendapat perhatian serius. Pengobatan rutin dan penanganan khusus yang lebih baik mereka upayakan untuk kesehatan Nando. Sejak saat itu, mereka rutin mendampingi perawatan Nando dan memastikan pendidikan untuk Indri.

"Aku ingin seperti kakak - kakak wartawan," kata Indri menjawab pertanyaan mengapa dirinya mengambil kuliah khusus jurnalistik. Meskipun awalnya Indri marah dan takut setiap menghadapi wartawan karena selalu dimanfaatkan untuk objek berita tanpa tindak lanjut yang berarti.

Sekarang kuliah Indri sudah semester 4. Selain kuliah, Indri juga bekerja sekaligus menjadi relawan di sebuah LSM yang menangani permasalahan HIV/AIDS di Medan.

Kembali lagi pada persoalan kekinian yang mereka hadapi, yaitu tempat tinggal. Inilah persoalan berat yang kini mereka hadapi. Indri harus menguras otaknya lebih dalam, berpikir bagaimana mendapatkan uang lebih banyak.

Indri adalah tulang punggung bagi dirinya sendiri dan adiknya. Indri harus pandai - pandai membagi uang; kebutuhan bagi perobatann adiknya, biaya makan sehari - hari, biaya untuk keperluankuliah, dan rumah kontrakan. Ini berat, tentulah sangat berat apalagi untuk gadis seusianya.

Kita Peduli!

Kita yang diberikan Tuhan kehidupan yang lebih beruntung dan terkadang menggerutui hidup, sudah sepatutnya belajar dari ketegaran Indri dan Nando. Belajar malu meminta - minta, sementara kaki dan tangan masih kuat. Belajar malu putus asa, malu menjadi pemalas, malu mengutuk keadaan, malu jadi sampah masyarakat.

Kita yang diberikan Tuhan kesehatan dan rezeki yang lebih baik, bisakah kita berdiam diri menyaksikan penderitaan yang mereka jalani? Kita malu menjadi orang yang tak acuh, kita malu berdiam diri dan hanya menikmati kebahagian seorang diri, sementara Indri dan Nando berjuang melawan detik demi detik yang membawa segala kemungkinan terburuk bagi hidup mereka. Kita malu karena tidak berbuat apa - apa.

Kita bangga menjadi orang yang peduli. Bangga menyatukan hati merasakan penderitaan Indri dan Nando. Bangga mengulurkan tangan dan bantuan sekecil apapun untuk mereka. Perhatian dan kepedulian kita akan berarti bila diwujudkan dan diberikan pada dua anak hebat luar biasa, Indri dan Nando. Kita peduli, kita bergerak. Kepedulian sebatas bibir tak lebih dari sebuah "omong kosong" yang diucapkan oleh aktor di sebuah panggung drama.

Wednesday, March 26, 2014

Penghargaan

Gadis kecil itu sumringah, tulang pipinya meninggi seiring bibirnya yang merekah indah. Gadis itu baru saja mendapatkan pujian dari seorang yang tak ia kenal. Pujian atas gambar atau lebih tepat coretan di atas kertas yang saban hari dibuatnya. Pujian yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Gadis itu bingung, dirinya tiba - tiba merasa hebat. Selama ini dirinya hanya merasa sebagai pelengkap manusia yang diciptakan Tuhan untuk memenuhi panggung sandiwaranya. Tidak memiliki peran apapun kecuali sebagai peramai dalam satu adegan. Tak lebih.

Namun, kalimat yang diucapkan pria yang sambil lalu itu seolah memberinya peran utama dalam panggung sandiwara tersebut.

"Apa yang kau buat itu sangat bagus, membuatku sungguh terkagum."

Kalimat itu terus mengiang di benaknya. Semangatnya membuncah, merasa diri lebih berharga. Ia membuka kembali kertas - kertas kosong miliknya dan mulai mencoretainya dengan semangat yang luar biasa. Tangannya ligat, imajinasinya semakin liar.

"Ternyata karyaku ada yang suka," kata gadis itu tanpa berhenti mencoret.

Sungguh, kata - kata yang terduga itu seakan mengubah hidupnya. Tak peduli apakah kalimat itu hanya sekedar "basa - basi" atau hanya sekedar ucapan sampah dari seorang yang sama sekali tak mengenal karya seni. Namun yang pasti, kalimat itu mengubah semangat hidup gadis kecil yang selama ini merasa terpinggirkan.

Saturday, March 22, 2014

Masalah

"Hei you, We give you a live because We know you have strong enough"

Begitulah bunyi kata - kata yang tertulis di kaos ablongan hitam murahan milik seorang kuli bangun. Tulisan tersebut tampaknya mewakili kisah pemakainya. Juga seolah menyindir siapa saja yang melihatnya, siapa saja yang menggerutui hidup, siapa saja yang mengutuk dan menghujat Tuhan atas sebuah kehidupan yang tak mudah.

Tiada kehidupan tanpa masalah, manusia tanpa masalah itu gila. Tapi tak cukup banyak orang yang berani menjadi gila karena untuk menjadi gila pun, manusia harus mengalami segunung masalah terlebih dahulu, itu pun jika beruntung.

Masalah itu bisa menjadi teman, bisa juga lawan. Tergantung manusia mau pilih yang mana. Berdamai dengan masalah akan menjadikan manusia lebih kuat dan bijak, begitu pula sebaliknya.

Manusia hanya harus mempelajari bagaimana menempatkan masalah itu di tempat yang benar. Sayangnya banyak yang tak mau belajar, sehingga membuat masalah lebih besar karena menimpakannya pada situasi dan tempat yang tidak tepat.

Banyak manusia yang meletakkan egonya di atas akal. Melimpahkan masalahnya pada manusia lain, dengan harapan egonya terpuaskan. Memanjakan amarah dan mengagung - agungkan emosi. Berpikir dialah satu - satunya manusia yang memiliki masalah dan kedua hal tersebut. Merasa berhak menekan dan memaksa manusia lain untuk menerima porsi masalahnya tersebut.

Celakalah manusia yang tak tahu menempatkan masalah dan amarahnya dengan tepat. Dan membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi.

"Hadapi dan selesaikan masalah dengan tuntas, jangan sisakan amarahnya pada orang lain" kata angin.

Thursday, March 20, 2014

Menggugat Kesombongan

Lihat lidahmu, bisakah kau membuatnya?
Jika bisa, baru kau boleh berkata lantam dan menghina sesamamu.

Dengarkan suaramu, bisakah kau menyatukan setiap bunyi dengan batang leher?
Jika bisa silahkan kau membentak - membentak sesama dengan alasan apapun.

Lihat tanganmu, bisakah kau menyatukan tulang dengan daging sedemikian rupa?
Jika bisa, maka kau boleh menggunakannya sesuka hatimu.

Lihat otakmu, bisakah kau merakitnya sedemikian rupa?
Jika bisa, baru kau boleh membodoh - bodohi sesamamu, tetapi gunakan lidah yang kau buat sendiri.

Lihat dirimu, apa yang kau miliki sepenuhnya?
Kau, dia, mereka dan aku sama. Tidak punya apa - apa. Semuanya pinjaman. Lantas apa yang patut kau sombongkan?

Hei kau, kenapa kau begitu berani memaki, menghina, membentak manusia yang tidak berbeda sedikitpun denganmu?

Hei kau, kenapa kau begitu angkuh padahal setitik darahpun tak mampu kau buat sendiri?

Kau manusia sombong! Bermodalkan pinjaman yang diberikan lebih oleh Tuhan, kau seenak - enaknya meninggikan suara pada mereka yang dipinjami lebih sedikit oleh Tuhan.

Gunakan otakmu yang sedikit itu untuk berpikir, mengapa kau harus sombong.

Saturday, March 15, 2014

Wanita

Duma lupa kodratnya sebagai wanita. Agama dan adatnya mengajarkan posisinya harus berada di belakang laki - laki bukan di depan. Duma juga lupa, perannya dalam keluarga dan pekerjaan tak boleh selangkah di depan imamnya.

Duma kesal. Ia melihat jauh ke dalam dirinya yang begitu keras dan sulit sekali diberi pemahaman akan kodratnya itu. Duma teringat, dulu sewaktu kecil, pernah mengumpat ibunya yang melahirkannya sebagai anak perempuan.

Duma marah. Kebebasannya untuk bermain tidak sebebas dengan teman - teman lelakinya.  Sekarang, setelah dewasa pun, masyarakat di negaranya masih memposisikan wanita di nomor dua. Kesetaraan gender yang dikoar - koarkan aktivis perempuan nyatanya belum dapat diterima seutuhnya.

Duma memandangi seabrek tumpukan pakaian kotor, rumah seperti kapal pecah, mempersiapkan segala kebutuhan suami sebelum berangkat kerja, memastikan kenyamanannya sebelum berangkat dan pulang ke rumah di malam harinya.

"Inilah kodratku," kata Duma.

Duma menyingsingkan lengan bajunya. Mulai bekerja. Dalam benaknya terus terngiang - ngiang pesan sang suami.

"Jadikan rumah sebagai tempat yang paling nyaman untuk ku kembali. Itulah tugasmu."

Duma merekam pesan itu kuat - kuat agar tak pergi dari ingatannya. Oleh karena itu, Duma matian - matian membuat suasana rumahnya senyaman mungkin. Nyaman dari segala hal, terutama persoalan rumah tangga yang disebabkan oleh masalah hati. Inilah tugas utama Duma selain pekerjaan rumah lainnya.

Duma selalu iri dengan aktivitas suaminya di luar sana. Aktivitas suaminya bersama teman - temannya. Suaminya selalu bangga memposting segala kegiatannya bersama teman - temanya, tetapi tidak dengan dirinya. Duma kerap memandangi foto suaminya itu, sembari berharap dirinya juga bisa seperti teman - temannya itu, terutama teman wanitanya.

Pada dirinya sendiri, Duma selalu bertanya, kenapa suaminya tak sebegitu bangga memposting segala kegiatan mereka berdua seperti dengan teman - temannya itu. Duma takut mempertanyakan perihal tersebut pada suaminya karena khawatir merusak kenyamanan yang selalu diwanti - wanti suaminya.

Duma mampu menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan tugas - tugas kantornya dengan sangat baik. Tetapi Duma bingung kenapa dirinya tidak mampu menyelesaikan persoalan hatinya yang terus menerus mempertanyakan kekodratannya tersebut.

Berulang kali Duma memperingatkan dirinya akan kodrat tersebut dan berusaha menerima sepenuhnya dalam setiap sikap dan tindakan. Tetapi masih saja gejolak pertanyaan - pertanyaan serupa membara di dalam dirinya.

"Aku seorang wanita. Tanggung jawabku lebih besar daripada seorang lelaki manapun. Aku mampu menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, begitu juga dengan tugas - tugas dari kantor tempatku bekerja.

Aku harus bangun lebih pagi mempersiapkan segala kebutuhan suami. Mengutamakannya dalam segala hal. Baru setelah itu mengurusi kepentinganku sendiri. Untuk itu semua, harusnya aku bangga."

Sama seperti suaminya, Duma juga bekerja. Tetapi waktu yang dimilikinya diluar sana tidak boleh sama dengan suaminya. Suaminya memiliki waktu yang tak terbatas. Sementara Duma, sebagai wanita, tidak baik berada di luar rumah pada larut malam, begitu kata orang - orang dan suaminya.

"Ah sudahlah," kata Duma mengakhiri perdebatan dalam dirinya. "Sudah seharusnya kita sepakat untuk menerima dan memahami semua ini," kata Duma pada sosok - sosok aneh didalam dirinya yang tak berhenti mengkonfrontirnya dengan pertanyaan - pertanyaan serupa.



Saturday, February 8, 2014

IRI

Keningnya mengkerut, matanya menyipit, dadanya menyesak dan kepalanya menunduk. Manusia itu berupaya keras memahami gejolak rasa tak menyenangkan di dalam hatinya. Rasa yang seolah mengalahkan logikanya.

'Das sein das sollen,' pikirnya. Ia memandang jauh dalam dirinya, menelisik segala kekurangan diri dan mengukur segala upaya yang telah dilakukannya. Kemudian melihat pada objek manusia lainnya yang membuat hatinya bergejolak.

'Dia memang patut mendapatkannya,' katanya menjawab pertanyaan yang muncul dari dirinya sendiri.

Sesaat hatinya tenang dan menerima rasionalisasi dari logikanya. Tetapi, pertanyaan - pertanyaan lain kembali muncul dan semakin memperburuk emosinya. Ia hanya diam dan kembali menatap jauh dalam dirinya.

Manusia itu terdiam, hanya garis dan raut wajahnya yang kadang berubah naik dan turun. Ia hanya menonton perdebatan antara hati dan logika dalam dirinya. Mencoba memahami nilai yang paling menguntungkan bagi dirinya.

'Semua orang memiliki kesempatannya masing - masing. Kita hanya perlu bersabar dan berusaha sebaik mungkin,' kata logika.

'Tetapi kita sudah melakukan hal yang sama dengan orang itu, kenapa semua kesempatan justru berpihak hanya kepadanya, sementara tidak sedikit pun pada kita,' sanggah hati.

'Tidak, dia melakukan lebih dari apa yang kita lakukan,' kata logika.

'Kau tahu kan, aku sangat menginginkan seperti apa yang dia peroleh saat ini. Kita juga sudah bekerja keras, sama sepertinya. Entahlah, aku hanya merasa tak dianggap,' kata hati.

'Hati, kau sedang sakit,' kata logika.

'Tidak, aku baik - baik saja,' jawab hati.

'Kau sakit!' Tegas logika pada hati.

'Apa sebenarnya maksudmu wahai logika? Sudah ku katakan bahwa aku baik - baik saja,' kata Hati.

'Kau iri,' kata logika.

'Kau gila. Tak mungkin ku biarkan penyakit itu menghinggapiku,' kata hati.

'Nyatanya kau gagal dan kini kau mengalami penyakit itu,' kata logika.

'Tidak, aku bukan iri aku hanya kecewa,' bela Hati.

'Kecewa? Pada siapa? Pada raga kita atau pada Tuhan? Kau iri pada manusia itu hati. Itulah yang benar. Kau tahu betapa berbahayanya penyakit itu pada kita, pada manusia? Iri dapat menyebabkan kebencian, kebencian dapat merusak hubungan antar manusia, bisa lebih fatal yaitu dapat membinasakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Itulah mengapa Tuhan sangat membeci penyakit hati itu,' terang logika.

Si Hati diam. Begitu juga manusia pemilik mereka. Ia mendengar, mencermati, dan berupaya memahami argumen yang terbaik. Ia menarik nafas panjang, berusaha memaku nilai terbaik itu dalam dirinya.

Sabtu senja, 090214

Friday, February 7, 2014

Legam

Di satu sudut pusat kota Jakarta, siang  Jumat yang mendung. Puluhan manusia pekerja menuju titik - titik kawasan yang menawarkan berbagai pemuas lidah dan perut yang kelaparan.

Di satu sudut itu berjajar puluhan steling dan warung makanan. Masing - masing mereka bersaing merangsang liur pencecap mereka yang wara - wiri mencari yang terlihat paling menggoda.

Lelaki di belakang steling itu sibuk dengan tungku pemanggangnya. Mengipas - ngipaskan asap bearoma ayam dan ikan berbumbu. Mataya tajam dan liar menangkap wajah lapar manusia - manusia pekerja itu.

Perawakannya sedang, kulitnya legam. Entah karena panasnya matahari, entah juga karena panasnya api pemanggang atau mungkin sudah dari orok. Tetapi yang pasti, kulit hitamnya menguatkan garis sangar di wajahnya.

Tatapan mata dan asap beraroma sedap itu ampuh menarik selera pembeli. Kursi di depan steling nya mulai terisi dan hampir penuh. Tangannya semakin kencang menggoyang kipas di atas panggangannya.

Urat tangan dan mukanya timbul. Matanya semakin awas menangkap meja yang masih kosong. Sesaat matanya berhasil menangkap mataku.  Entah apa yang membuat otakku menangkap lelaki itu dengan sosok brandal.

Dari sudutku, lelaki itu jelas terlihat. Tiada henti tangannya mengipas, matanya memerah karena asap. Sementara Satu tangannya mengipas, tang an lainnya mengoleskan bumbu yang menguatkan rasa dan aroma.

Ada seorang wanita, berperawakan kecil menggendong gadisnya berumur sekira 2 tanun. Wanita itu melempar senyum pada lelaki di balik pemanggang itu. Gadis kecilnya juga begitu.

Gadis kecil yang ceria itu menggelinjang dari gendongan ibunya dan merangsek turun. Ia tertawa - tawa dan berlari ke arah pemanggangan. Lelaki yang tengah bergumul dengan asap itu melepaskan kipasnya. Ia menunduk, merentangkan tangan, dan menangkap gadis kecil yang berlari ke arahnya.

Mereka tertawa bersama, begitu juga wanita yang berdiri dibalik stelingnya. Lelaki itu menciumi gadisnya tanpa menghiraukan aroma gosong yang mulai tercium dari pemanggangan.

Ketika bau mulai menyengat, baru ia mengalihkan pandangannya dari di basis. Iya kembali mengipas dengan gadis kecil yang masih berada di gendongannya. Dengan hanya satu tangan, ia menyelesaikan pekerjaannya. 

Ia kemudian melanjutkan gurauannya pada sang gadis kecil. Ia terlihat membetulkan baju, memakaikan sendal, dan merapikan rambut gadis yang tak hentinya terse yum itu. Ia juga menghalau nyamuk yang mencoba mendekati gadis itu.

Andri, lelaki berwajah tegas dan kulit legam itu menjadi lembut ketika bersama gadis kecil itu. Mata dan garis wajahnya tak sekeras saat ku melihatnya. Ia terlihat begitu berbeda.

Matanya menjadi begitu teduh, senyumnya sumringah. Kulit legamnya membuat ia terlihat manis. Ayah itu tak berdaya di hadapan gadis kecilnya, bahkan sekedar memasang wajah lelah pun ia tak mampu apa lagi sangar seperti persepsiku tadi.

Jakarta, 070214.

Thursday, February 6, 2014

Rumi

Dusun di daerah tertinggal di pesisir Sumatera itu sepi. Hanya ditinggali oleh beberapa penghuni saja. Tanah kosong yang luas memisahkan antara satu rumah dengan rumah yang lain. Rumah petak – petak semi permanen yang terbuat dari papan dan gedek.

Udara kering, disempurnakan oleh cuaca terik yang membakar kulit dan memenuhi rongga dada dengan debunya yang diterbangkan liar oleh angin. Para lelaki di dusun itu tak pernah menghiraukan seberapa besar upaya mata hari membakar kulit mereka. Masalah perut adalah yang utama.

Di pemula hari, satu per satu pintu rumah akan terbuka dan para lelaki kekar berkulit gelap itu akan keluar rumah. Menantang gelapnya jalan yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan, itu pun kalau cuaca sedang baik. Jika buruk, maka lubang – lubang besar yang menganga di tengah jalan siap melahap lingkar ban sepeda tua mereka yang ringkih itu.

Sepeda dikayuh hingga beberapa ratus meter menuju sungai tempat perahu – perahu para nelayan bersandar. Kegiatan dayung mendayung memang sangat akrab dengan kehidupan para nelayan. Mendayung sepeda di darat, mendayung sampan di laut dan mendayung nasib agar sampai pada tujuan akhir setiap manusia, kematian.

Setiap orang disini memang tak berani berharap lebih untuk kehidupannya. Harapan besar justru akan mematikan mereka lebih cepat. Harapan itu hal yang tabu untuk disimpan, apalagi berani menyemainya menjadi sebuah mimpi.

Inilah yang membuat orang – orang kampung pesisir kampungku, tak pernah bersusah payah untuk bekerja lebih keras dan berharap akan hidup yang lebih baik pada hari – hari esok. Melaut cukuplah untuk mendapatkan hasil untuk kebutuhan perut dalam sehari. Perkara esok dan lusa, itu tergantung pada kesempatan yang diberikan oleh hari – hari mendatang.

Aku Rumi, sulung dari empat bersaudara anak dari Ramlan dan Mariam. Saat ini, aku sedang berjuang menamatkan sekolah di tingkat akhir. Jangan menyebutku berlebihan kawan, ini memang berat dan patut dikatakan sebuah perjuangan.

Sistem Ujian Nasional (UN) yang dibuat pemerintah ini membuatku hampir gila. Aku takut tak lulus, bukan karena malas belajar tapi aku khawatir dengan sistem pelajaran di sekolah yang jauh tertinggal sehingga tak mampu menyamai tingkat kesulitan soal – soal ujian itu nanti.

Sekolahku swasta, sekolah bagi anak – anak yang otaknya tak mampu masuk ke sekolah negeri yang menjadi favorit di kampungku. Nilai NEM (Nilai Evaluasi Murid) SMP ku tak cukup untuk masuk ke negeri, pilihannya hanya sekolahku yang saat ini. Uang bulanannya cukup berat bagi kami tetapi mungkin akan terdengar kecil bagimu kawan, Rp 65 ribu sebulan. Untuk ukuran swasta angka ini memang tergolong murah.

“Untuk apalah kau lanjut sekolah lagi Rumi? Sudah cukup lah kau sekolah itu, yang penting kau sudah pandai membaca dan beritung. Kau kan perempuan, tak perlu sekolah tinggi – tinggi. Biar bisa ayah menyimpan duit untuk adik kau yang mau masuk polisi nanti,” kata ayahku ketika itu.

Inilah perjuanganku yang sesungguhnya kawan. Perjuangan melawan tradisi kolot kampungku yang mengganggap pendidikan tak penting bagi anak perempuan. Klise bukan? Berpuluh – puluh tahun sudah Kartini menyatu dengan tanah dan 68 tahun sudah negara ini merdeka tetapi aku belum bebas untuk mendapatkan pendidikan.

Aku sering memaki Tuhan kawan. Kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan? Kenapa kami miskin? Kenapa ayahku bukan SBY? Kenapa Ibuku bukan Megawati? Kenapa, kenapa dan kenapa. Tetapi Tuhan hanya diam. Tak mengapa, aku masih punya tangan dan kaki yang bisa ku pergunakan untuk mengais kerang di tengah laut untuk modalku melanjutkan sekolah. Terima kasih Tuhan dan maaf telah memaki Mu.

===

Ayahku pulang cepat hari ini. Katanya angin laut sangat kencang, perahunya hampir saja terguling diterpa angin. Ikan di laut kami kian hari kian menghilang, ayah dan kawan – kawannya harus mendayung sampan sampai jauh ke tengah laut baru menemukan ikan, itupun tak banyak.

Laut kami sudah rusak kawan. Kau tahu mengapa? Karena limbah perusahaan – perusahaan besar milik asing di kampungku. Limbah dari perusahaan alumunium dan limbah pengolahan biji kelapa sawit kabarnya dibuang ke laut.

Perusahaan – perusahaan milik asing yang berdiri di atas tanah kami itu sangat besar. Meskipun begitu, warga disekitarnya hidup miskin. Bagaimana tidak, mereka hanya bekerja sebagai kuli dengan upah harian yang hanya cukup untuk makan sehari. Entahlah kawan, kami dijajah oleh pemerintah sendiri.

“Tak sekolah lagi si Alim hari ini?,” tanya ayah ke ibuku.
“Letih betul aku membangunkannya saban pagi, telambatlah dia ke sekolah. Cubalah abang tanyakan elok – elok ke si Alim itu, betul tak mau sekolah? Aku pun capek lah bolak – balik dipanggil gurunya ke sekolah,” kata ibuku.

Alim, adik lelaki yang kini duduk di kelas 3 SMP adalah kebanggaan dan yang diharapkan Ayah kelak menjadi polisi. Alim memang jarang masuk sekolah, katanya ia tak mau jadi polisi jadi tak penting sekolah. Ia cuma mau jadi pelaut saja sama seperti ayah, tapi pelaut dengan kapal yang lebih canggih bukan sampan dayung seperti punya ayah.

“Aku tak mau jadi polisi macam maunya ayah itu kak. Kampung kita ini sudah aman, tak perlu lagi polisi. Di kota sana sudah banyak polisi, saking banyaknya mereka sering berebut lahan. Tahulah kakak itu kan? Lagian polisi juga ku tengok tidak membuat masyarakat merasa lebih aman. Justru mereka jadi takut, coba kakak lihat di jalan, kalau ada polisi pasti orang – orang lari atau menghindar. Tak suka masyarakat sama polisi itu kak, baik aku jadi pelaut sajalah,” begitulah pandangan Alim tentang polisi.

Ayah sering marah – marah pada Alim, ibu juga sering kena semprot karena tidak membangunkan Alim buat sekolah. Ah, tapi aku tak peduli kawan. Aku hanya peduli tentang biaya sekolah yang harus ke cari sendiri. Ayah tak pernah peduli tentang itu, ia hanya peduli tentang isi perutku bukan otakku.

Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian minggu depan. Waktu belajar harus ku percepat lebih awal sebelum malam, aku takut bila sudah gelap aku tak dapat lagi belajar. Listrik di kampungku kerap mati di malam hari kawan, sebenarnya siang juga begitu.

Mataku tak tahan bila harus dipaksakan belajar dengan penerangan lampu semprong. Mataku sudah lama kabur tetapi tabunganku belum cukup buat membeli kaca mata. Aku sudah cukup berdoa pada Tuhan agar kerang di laut banyak, sehingga aku dapat uang lebih dan bisa menyisihkannya untuk membeli kaca mata. Tetapi Tuhan belum menjawabnya, mungkin esok atau lusa.

===

Aku melangkah perlahan menuju papan tulis di halaman sekolah yang berisi pengumuman tentang kelulusan ujian nasional. Ya Tuhan, jantung seakan mau meledak saat ini juga. Detak jantung terdengar ibarat detak – detak waktu pada bom yang mau meledak. Aku berhenti, menutup mata dan menarik nafas lalu menghempuskannya sekuat – sekuatnya, berharap dapat lebih tenang tetapi tidak juga.

Bagaimana bisa tenang, kawan – kawanku banyak yang terduduk lemas dan menangis meraung – raung. Melihat pemandangan ini, rasanya aku ingin langsung pulang tanpa perlu mengetahui lulus atau tidak. Tetapi aku menguatkan langkah untuk melihat penentu nasibku di atas kertas yang menempal di papan tulis itu.

Aku menyeser jariku mencari abjad namaku di atas kertas tersebut. Ya Tuhan! Banyak nama – nama yang telah dilewati jariku tidak lulus. Aku menahan nafas, jantungku siap – siap meledak ketika aku menemukan namaku, Rumita Ramlan...

===

“Rumi tetap mau  ke kota bu,”  kataku pada ibu yang sedang mengupas kerang.

“Rumi, sudahlah. Apa tak cukup tamparan Ayah yang melayang di pipi kau semalam? Apa yang mau kau kerjakan disana? Sudahlah disini saja sama ibu tak perlu ke kota. Kau sudah besar, bentar lagi pasti ada laki – laki yang melamar kau Rumi,” kata Ibu.

“Rumi cuma butuh izin Ibu,”

“Tapi ayahmu tak kasi izin. Kau sudah lulus dari SMA, apa itu belum cukup? Rumi, sekolah pun kau tinggi – tinggi sampai ke kota akan percuma. Kau perempuan, kalau kau mau jadi orang kaya tinggal kau cari nanti suami yang kaya,”

“Rumi tak peduli sama ayah! Rumi Cuma minta izin Ibu, cuma itu. Tolonglah bu...”

“Terserah kau lah Rumi,”

“Bu...”

“Pergilah, tapi jangan pernah kau lupakan kodratmu sebagai perempuan,”

“Rumi paham betul kodrat Rumi sebagai perempuan bu. Rumi tidak berharap menjadi orang kaya dengan pendidikan tinggi bu, pendidikan itu sebagai modal buat Rumi di masa depan. Modal yang bisa membimbing Rumi dimanapun Rumi berada. Modal yang mungkin bisa membawa Rumi pada berbagai pertanyaan yang tersimpan di kepala Rumi selama ini.

Kenapa kita bisa miskin padahal kita punya tanah subur dan laut yang luas?

Kenapa Rumi sebagai perempuan dibedakan dengan si Alim yang laki – laki oleh ayah dalam hal pendidikan?

Kenapa perusahaan – perusahaan asing itu bisa berdiri kokoh di tanah milik kita selama berpuluh tahun sementara banyak tetangga kita yang rumahnya berdiri di atas tanah yang telah dipacak sebagai tanah milik negara?

Bukankan tanah, air, beserta isinya adalah milik segenap rakyat tetapi kenapa kita justru ditendang dari tanah miliki kita sendiri?

Kenapa ikan dan kerang di laut kita kian hari kian berkurang?

Kenapa rumah sakit umum di kampung kita tidak ada dokternya?

Kenapa biaya berobat mahal sampai – sampai wak Anum biarkan anaknya mati karena tak ada uang buat bayar dokter?

Dan kenapa kita hanya diam dan diam lalu membiarkannya begitu saja seolah – olah ini memang sudah kehendak Tuhan? Kenapa bu?” Aku bersimpuh di kaki ibu dengan air mata yang membasahi kainnya.

Waktu sesaat menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang menyapu daun – daun nangka yang kering. Rambutku basah saat ibu meletakkan telapak tangannya yang masih basah oleh air kerang di atas kepalaku. Kemudian terdengar ibu menarik nafas dan melepasnya secara perlahan.

“Pergilah nak, ibu hanya bisa membekalimu dengan doa.”