Dusun di daerah tertinggal di pesisir Sumatera itu sepi. Hanya ditinggali oleh beberapa penghuni saja. Tanah kosong yang luas memisahkan antara satu rumah dengan rumah yang lain. Rumah petak – petak semi permanen yang terbuat dari papan dan gedek.
Udara kering, disempurnakan oleh cuaca terik yang membakar kulit dan memenuhi rongga dada dengan debunya yang diterbangkan liar oleh angin. Para lelaki di dusun itu tak pernah menghiraukan seberapa besar upaya mata hari membakar kulit mereka. Masalah perut adalah yang utama.
Di pemula hari, satu per satu pintu rumah akan terbuka dan para lelaki kekar berkulit gelap itu akan keluar rumah. Menantang gelapnya jalan yang hanya diterangi oleh cahaya rembulan, itu pun kalau cuaca sedang baik. Jika buruk, maka lubang – lubang besar yang menganga di tengah jalan siap melahap lingkar ban sepeda tua mereka yang ringkih itu.
Sepeda dikayuh hingga beberapa ratus meter menuju sungai tempat perahu – perahu para nelayan bersandar. Kegiatan dayung mendayung memang sangat akrab dengan kehidupan para nelayan. Mendayung sepeda di darat, mendayung sampan di laut dan mendayung nasib agar sampai pada tujuan akhir setiap manusia, kematian.
Setiap orang disini memang tak berani berharap lebih untuk kehidupannya. Harapan besar justru akan mematikan mereka lebih cepat. Harapan itu hal yang tabu untuk disimpan, apalagi berani menyemainya menjadi sebuah mimpi.
Inilah yang membuat orang – orang kampung pesisir kampungku, tak pernah bersusah payah untuk bekerja lebih keras dan berharap akan hidup yang lebih baik pada hari – hari esok. Melaut cukuplah untuk mendapatkan hasil untuk kebutuhan perut dalam sehari. Perkara esok dan lusa, itu tergantung pada kesempatan yang diberikan oleh hari – hari mendatang.
Aku Rumi, sulung dari empat bersaudara anak dari Ramlan dan Mariam. Saat ini, aku sedang berjuang menamatkan sekolah di tingkat akhir. Jangan menyebutku berlebihan kawan, ini memang berat dan patut dikatakan sebuah perjuangan.
Sistem Ujian Nasional (UN) yang dibuat pemerintah ini membuatku hampir gila. Aku takut tak lulus, bukan karena malas belajar tapi aku khawatir dengan sistem pelajaran di sekolah yang jauh tertinggal sehingga tak mampu menyamai tingkat kesulitan soal – soal ujian itu nanti.
Sekolahku swasta, sekolah bagi anak – anak yang otaknya tak mampu masuk ke sekolah negeri yang menjadi favorit di kampungku. Nilai NEM (Nilai Evaluasi Murid) SMP ku tak cukup untuk masuk ke negeri, pilihannya hanya sekolahku yang saat ini. Uang bulanannya cukup berat bagi kami tetapi mungkin akan terdengar kecil bagimu kawan, Rp 65 ribu sebulan. Untuk ukuran swasta angka ini memang tergolong murah.
“Untuk apalah kau lanjut sekolah lagi Rumi? Sudah cukup lah kau sekolah itu, yang penting kau sudah pandai membaca dan beritung. Kau kan perempuan, tak perlu sekolah tinggi – tinggi. Biar bisa ayah menyimpan duit untuk adik kau yang mau masuk polisi nanti,” kata ayahku ketika itu.
Inilah perjuanganku yang sesungguhnya kawan. Perjuangan melawan tradisi kolot kampungku yang mengganggap pendidikan tak penting bagi anak perempuan. Klise bukan? Berpuluh – puluh tahun sudah Kartini menyatu dengan tanah dan 68 tahun sudah negara ini merdeka tetapi aku belum bebas untuk mendapatkan pendidikan.
Aku sering memaki Tuhan kawan. Kenapa aku dilahirkan sebagai perempuan? Kenapa kami miskin? Kenapa ayahku bukan SBY? Kenapa Ibuku bukan Megawati? Kenapa, kenapa dan kenapa. Tetapi Tuhan hanya diam. Tak mengapa, aku masih punya tangan dan kaki yang bisa ku pergunakan untuk mengais kerang di tengah laut untuk modalku melanjutkan sekolah. Terima kasih Tuhan dan maaf telah memaki Mu.
===
Ayahku pulang cepat hari ini. Katanya angin laut sangat kencang, perahunya hampir saja terguling diterpa angin. Ikan di laut kami kian hari kian menghilang, ayah dan kawan – kawannya harus mendayung sampan sampai jauh ke tengah laut baru menemukan ikan, itupun tak banyak.
Laut kami sudah rusak kawan. Kau tahu mengapa? Karena limbah perusahaan – perusahaan besar milik asing di kampungku. Limbah dari perusahaan alumunium dan limbah pengolahan biji kelapa sawit kabarnya dibuang ke laut.
Perusahaan – perusahaan milik asing yang berdiri di atas tanah kami itu sangat besar. Meskipun begitu, warga disekitarnya hidup miskin. Bagaimana tidak, mereka hanya bekerja sebagai kuli dengan upah harian yang hanya cukup untuk makan sehari. Entahlah kawan, kami dijajah oleh pemerintah sendiri.
“Tak sekolah lagi si Alim hari ini?,” tanya ayah ke ibuku.
“Letih betul aku membangunkannya saban pagi, telambatlah dia ke sekolah. Cubalah abang tanyakan elok – elok ke si Alim itu, betul tak mau sekolah? Aku pun capek lah bolak – balik dipanggil gurunya ke sekolah,” kata ibuku.
Alim, adik lelaki yang kini duduk di kelas 3 SMP adalah kebanggaan dan yang diharapkan Ayah kelak menjadi polisi. Alim memang jarang masuk sekolah, katanya ia tak mau jadi polisi jadi tak penting sekolah. Ia cuma mau jadi pelaut saja sama seperti ayah, tapi pelaut dengan kapal yang lebih canggih bukan sampan dayung seperti punya ayah.
“Aku tak mau jadi polisi macam maunya ayah itu kak. Kampung kita ini sudah aman, tak perlu lagi polisi. Di kota sana sudah banyak polisi, saking banyaknya mereka sering berebut lahan. Tahulah kakak itu kan? Lagian polisi juga ku tengok tidak membuat masyarakat merasa lebih aman. Justru mereka jadi takut, coba kakak lihat di jalan, kalau ada polisi pasti orang – orang lari atau menghindar. Tak suka masyarakat sama polisi itu kak, baik aku jadi pelaut sajalah,” begitulah pandangan Alim tentang polisi.
Ayah sering marah – marah pada Alim, ibu juga sering kena semprot karena tidak membangunkan Alim buat sekolah. Ah, tapi aku tak peduli kawan. Aku hanya peduli tentang biaya sekolah yang harus ke cari sendiri. Ayah tak pernah peduli tentang itu, ia hanya peduli tentang isi perutku bukan otakku.
Aku harus mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian minggu depan. Waktu belajar harus ku percepat lebih awal sebelum malam, aku takut bila sudah gelap aku tak dapat lagi belajar. Listrik di kampungku kerap mati di malam hari kawan, sebenarnya siang juga begitu.
Mataku tak tahan bila harus dipaksakan belajar dengan penerangan lampu semprong. Mataku sudah lama kabur tetapi tabunganku belum cukup buat membeli kaca mata. Aku sudah cukup berdoa pada Tuhan agar kerang di laut banyak, sehingga aku dapat uang lebih dan bisa menyisihkannya untuk membeli kaca mata. Tetapi Tuhan belum menjawabnya, mungkin esok atau lusa.
===
Aku melangkah perlahan menuju papan tulis di halaman sekolah yang berisi pengumuman tentang kelulusan ujian nasional. Ya Tuhan, jantung seakan mau meledak saat ini juga. Detak jantung terdengar ibarat detak – detak waktu pada bom yang mau meledak. Aku berhenti, menutup mata dan menarik nafas lalu menghempuskannya sekuat – sekuatnya, berharap dapat lebih tenang tetapi tidak juga.
Bagaimana bisa tenang, kawan – kawanku banyak yang terduduk lemas dan menangis meraung – raung. Melihat pemandangan ini, rasanya aku ingin langsung pulang tanpa perlu mengetahui lulus atau tidak. Tetapi aku menguatkan langkah untuk melihat penentu nasibku di atas kertas yang menempal di papan tulis itu.
Aku menyeser jariku mencari abjad namaku di atas kertas tersebut. Ya Tuhan! Banyak nama – nama yang telah dilewati jariku tidak lulus. Aku menahan nafas, jantungku siap – siap meledak ketika aku menemukan namaku, Rumita Ramlan...
===
“Rumi tetap mau ke kota bu,” kataku pada ibu yang sedang mengupas kerang.
“Rumi, sudahlah. Apa tak cukup tamparan Ayah yang melayang di pipi kau semalam? Apa yang mau kau kerjakan disana? Sudahlah disini saja sama ibu tak perlu ke kota. Kau sudah besar, bentar lagi pasti ada laki – laki yang melamar kau Rumi,” kata Ibu.
“Rumi cuma butuh izin Ibu,”
“Tapi ayahmu tak kasi izin. Kau sudah lulus dari SMA, apa itu belum cukup? Rumi, sekolah pun kau tinggi – tinggi sampai ke kota akan percuma. Kau perempuan, kalau kau mau jadi orang kaya tinggal kau cari nanti suami yang kaya,”
“Rumi tak peduli sama ayah! Rumi Cuma minta izin Ibu, cuma itu. Tolonglah bu...”
“Terserah kau lah Rumi,”
“Bu...”
“Pergilah, tapi jangan pernah kau lupakan kodratmu sebagai perempuan,”
“Rumi paham betul kodrat Rumi sebagai perempuan bu. Rumi tidak berharap menjadi orang kaya dengan pendidikan tinggi bu, pendidikan itu sebagai modal buat Rumi di masa depan. Modal yang bisa membimbing Rumi dimanapun Rumi berada. Modal yang mungkin bisa membawa Rumi pada berbagai pertanyaan yang tersimpan di kepala Rumi selama ini.
Kenapa kita bisa miskin padahal kita punya tanah subur dan laut yang luas?
Kenapa Rumi sebagai perempuan dibedakan dengan si Alim yang laki – laki oleh ayah dalam hal pendidikan?
Kenapa perusahaan – perusahaan asing itu bisa berdiri kokoh di tanah milik kita selama berpuluh tahun sementara banyak tetangga kita yang rumahnya berdiri di atas tanah yang telah dipacak sebagai tanah milik negara?
Bukankan tanah, air, beserta isinya adalah milik segenap rakyat tetapi kenapa kita justru ditendang dari tanah miliki kita sendiri?
Kenapa ikan dan kerang di laut kita kian hari kian berkurang?
Kenapa rumah sakit umum di kampung kita tidak ada dokternya?
Kenapa biaya berobat mahal sampai – sampai wak Anum biarkan anaknya mati karena tak ada uang buat bayar dokter?
Dan kenapa kita hanya diam dan diam lalu membiarkannya begitu saja seolah – olah ini memang sudah kehendak Tuhan? Kenapa bu?” Aku bersimpuh di kaki ibu dengan air mata yang membasahi kainnya.
Waktu sesaat menjadi hening, hanya terdengar suara angin yang menyapu daun – daun nangka yang kering. Rambutku basah saat ibu meletakkan telapak tangannya yang masih basah oleh air kerang di atas kepalaku. Kemudian terdengar ibu menarik nafas dan melepasnya secara perlahan.
“Pergilah nak, ibu hanya bisa membekalimu dengan doa.”
No comments:
Post a Comment