Saturday, February 8, 2014

IRI

Keningnya mengkerut, matanya menyipit, dadanya menyesak dan kepalanya menunduk. Manusia itu berupaya keras memahami gejolak rasa tak menyenangkan di dalam hatinya. Rasa yang seolah mengalahkan logikanya.

'Das sein das sollen,' pikirnya. Ia memandang jauh dalam dirinya, menelisik segala kekurangan diri dan mengukur segala upaya yang telah dilakukannya. Kemudian melihat pada objek manusia lainnya yang membuat hatinya bergejolak.

'Dia memang patut mendapatkannya,' katanya menjawab pertanyaan yang muncul dari dirinya sendiri.

Sesaat hatinya tenang dan menerima rasionalisasi dari logikanya. Tetapi, pertanyaan - pertanyaan lain kembali muncul dan semakin memperburuk emosinya. Ia hanya diam dan kembali menatap jauh dalam dirinya.

Manusia itu terdiam, hanya garis dan raut wajahnya yang kadang berubah naik dan turun. Ia hanya menonton perdebatan antara hati dan logika dalam dirinya. Mencoba memahami nilai yang paling menguntungkan bagi dirinya.

'Semua orang memiliki kesempatannya masing - masing. Kita hanya perlu bersabar dan berusaha sebaik mungkin,' kata logika.

'Tetapi kita sudah melakukan hal yang sama dengan orang itu, kenapa semua kesempatan justru berpihak hanya kepadanya, sementara tidak sedikit pun pada kita,' sanggah hati.

'Tidak, dia melakukan lebih dari apa yang kita lakukan,' kata logika.

'Kau tahu kan, aku sangat menginginkan seperti apa yang dia peroleh saat ini. Kita juga sudah bekerja keras, sama sepertinya. Entahlah, aku hanya merasa tak dianggap,' kata hati.

'Hati, kau sedang sakit,' kata logika.

'Tidak, aku baik - baik saja,' jawab hati.

'Kau sakit!' Tegas logika pada hati.

'Apa sebenarnya maksudmu wahai logika? Sudah ku katakan bahwa aku baik - baik saja,' kata Hati.

'Kau iri,' kata logika.

'Kau gila. Tak mungkin ku biarkan penyakit itu menghinggapiku,' kata hati.

'Nyatanya kau gagal dan kini kau mengalami penyakit itu,' kata logika.

'Tidak, aku bukan iri aku hanya kecewa,' bela Hati.

'Kecewa? Pada siapa? Pada raga kita atau pada Tuhan? Kau iri pada manusia itu hati. Itulah yang benar. Kau tahu betapa berbahayanya penyakit itu pada kita, pada manusia? Iri dapat menyebabkan kebencian, kebencian dapat merusak hubungan antar manusia, bisa lebih fatal yaitu dapat membinasakan antara manusia satu dengan yang lainnya. Itulah mengapa Tuhan sangat membeci penyakit hati itu,' terang logika.

Si Hati diam. Begitu juga manusia pemilik mereka. Ia mendengar, mencermati, dan berupaya memahami argumen yang terbaik. Ia menarik nafas panjang, berusaha memaku nilai terbaik itu dalam dirinya.

Sabtu senja, 090214

No comments:

Post a Comment