Duma lupa kodratnya sebagai wanita. Agama dan adatnya mengajarkan posisinya harus berada di belakang laki - laki bukan di depan. Duma juga lupa, perannya dalam keluarga dan pekerjaan tak boleh selangkah di depan imamnya.
Duma kesal. Ia melihat jauh ke dalam dirinya yang begitu keras dan sulit sekali diberi pemahaman akan kodratnya itu. Duma teringat, dulu sewaktu kecil, pernah mengumpat ibunya yang melahirkannya sebagai anak perempuan.
Duma marah. Kebebasannya untuk bermain tidak sebebas dengan teman - teman lelakinya. Sekarang, setelah dewasa pun, masyarakat di negaranya masih memposisikan wanita di nomor dua. Kesetaraan gender yang dikoar - koarkan aktivis perempuan nyatanya belum dapat diterima seutuhnya.
Duma memandangi seabrek tumpukan pakaian kotor, rumah seperti kapal pecah, mempersiapkan segala kebutuhan suami sebelum berangkat kerja, memastikan kenyamanannya sebelum berangkat dan pulang ke rumah di malam harinya.
"Inilah kodratku," kata Duma.
Duma menyingsingkan lengan bajunya. Mulai bekerja. Dalam benaknya terus terngiang - ngiang pesan sang suami.
"Jadikan rumah sebagai tempat yang paling nyaman untuk ku kembali. Itulah tugasmu."
Duma merekam pesan itu kuat - kuat agar tak pergi dari ingatannya. Oleh karena itu, Duma matian - matian membuat suasana rumahnya senyaman mungkin. Nyaman dari segala hal, terutama persoalan rumah tangga yang disebabkan oleh masalah hati. Inilah tugas utama Duma selain pekerjaan rumah lainnya.
Duma selalu iri dengan aktivitas suaminya di luar sana. Aktivitas suaminya bersama teman - temannya. Suaminya selalu bangga memposting segala kegiatannya bersama teman - temanya, tetapi tidak dengan dirinya. Duma kerap memandangi foto suaminya itu, sembari berharap dirinya juga bisa seperti teman - temannya itu, terutama teman wanitanya.
Pada dirinya sendiri, Duma selalu bertanya, kenapa suaminya tak sebegitu bangga memposting segala kegiatan mereka berdua seperti dengan teman - temannya itu. Duma takut mempertanyakan perihal tersebut pada suaminya karena khawatir merusak kenyamanan yang selalu diwanti - wanti suaminya.
Duma mampu menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan tugas - tugas kantornya dengan sangat baik. Tetapi Duma bingung kenapa dirinya tidak mampu menyelesaikan persoalan hatinya yang terus menerus mempertanyakan kekodratannya tersebut.
Berulang kali Duma memperingatkan dirinya akan kodrat tersebut dan berusaha menerima sepenuhnya dalam setiap sikap dan tindakan. Tetapi masih saja gejolak pertanyaan - pertanyaan serupa membara di dalam dirinya.
"Aku seorang wanita. Tanggung jawabku lebih besar daripada seorang lelaki manapun. Aku mampu menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, begitu juga dengan tugas - tugas dari kantor tempatku bekerja.
Aku harus bangun lebih pagi mempersiapkan segala kebutuhan suami. Mengutamakannya dalam segala hal. Baru setelah itu mengurusi kepentinganku sendiri. Untuk itu semua, harusnya aku bangga."
Sama seperti suaminya, Duma juga bekerja. Tetapi waktu yang dimilikinya diluar sana tidak boleh sama dengan suaminya. Suaminya memiliki waktu yang tak terbatas. Sementara Duma, sebagai wanita, tidak baik berada di luar rumah pada larut malam, begitu kata orang - orang dan suaminya.
"Ah sudahlah," kata Duma mengakhiri perdebatan dalam dirinya. "Sudah seharusnya kita sepakat untuk menerima dan memahami semua ini," kata Duma pada sosok - sosok aneh didalam dirinya yang tak berhenti mengkonfrontirnya dengan pertanyaan - pertanyaan serupa.
No comments:
Post a Comment