Friday, March 28, 2014

Pertarungan Hidup Dua Anak Manusia

Ruang Isolasi RSUD Pirngadi Medan

November 2010. Di satu sudut bangsal isolasi Pirngadi, seorang bocah laki - laki kurus kering menangis sedu sedan. Tangisnya diiringi batuk tiada berjeda, menggoncang tubuh kurus kering milik bocah berusia 7 tahun itu. Ruang isolasi yang kecil dan panas membuat nafasnya kian sesak. Perawat berlalu lalang, hanya melihat kemudian berlalu.

Batuk yang diderita bocah itu tergolong akut, namun tidak pernah diobati. Nando hanya meminum arv dan vitamin anak - anak. Tidak pernah diperiksakan secara khusus ke rumah sakit. Tidak ada penanganan serius.

Tubuh bocah itu dihindari, bahkan ditakuti oleh banyak orang. Yang iba hanya berani melihat dari kejauhan tanpa berani sedikitpun mendekat. Tubuh yang tinggal tulang berbalut kulit itu bersarang virus mematikan, HIV/AIDS.

Namanya, Nando (samaran). Nando sedih ditinggal dan menunggu terlalu lama kakaknya Indri (samaran). Indri adalah satu - satunya keluarga yang dimiliki Nando. Kedua orang tuanya meninggal dalam waktu selang waktu tak terlalu lama karena mengidap virus serupa. Ibunya pergi lebih dulu pada tahun 2007, empat tahun setelah melahirkan Nando. Ayahnya kemudian menyusul tahun 2009.

Indri tak punya pilihan, ia terpaksa meninggalkan sang adik untuk mengikuti ujian akhir nasional tingkat SMA. Nando sendirian untuk waktu yang cukup lama. Hanya Indri yang mengerti segala kebutuhan Nando, begitu juga pikiran dan perasaannya. Hanya Indri yang dapat mendamaikan hati sang adik dan melupakan sejenak virus yang terus menggerogoti tubuhnya.

Nando lahir tanggal 29 April 2003. Ahhh senangnya, sebentar lagi Nando akan berulang tahun yang ke - 11. Tubuh Nando relatif lebih kecil untuk anak - anak seusianya, tetapi semangat Nando tidak pernah bisa dibandingkan dengan siapapun.

Nando selalu tersenyum dan tertawa apalagi jika Indri berada di sampingnya. Nando anak yang licah dan mudah bergaul. Namun, sejak meninggalkan sekolahnya di bangku kelas 2 SD, Nando tidak bebas bermain dan memiliki banyak teman lagi. Tubuhnya tak cukup kuat bersekolah. Indri dan Nando adalah dua anak manusia yang diciptakan Tuhan untuk menegur manusia - manusia pengeluh di muka bumi ini.

Indri dan Nando hidup mandiri dalam segala keterbatasan dan kekurangan. Baik Indri dan Nando tidak pernah memelas iba kepada siapapun. Bahkan pada sanak saudara yang seharusnya menanggung jawabi hidup mereka. Yang seharusnya menjadi tumpuan hidup dan keluarga baru menggantikan ayah dan ibu mereka yang telah pergi.

Indri dan Nando tak pernah mengutuk keadaan, apalagi menghujat saudara yang menolak dan mengusir keduanya dari rumah mewah mereka. Indri dan Nando tetap menyayangi dan menghormati mereka.

Hidup Berpindah - pindah

Indri dan Nando hidup berpindah - pindah. Dari satu rumah ke rumah lain. Tempat tinggal adalah satu persoalan dari sekian persoalan yang mereka hadapi. Indri, adalah kakak yang luar biasa, dengan jerih payahnya sendiri, Indri berusaha membiayai hidup dan membayar kontrakan rumah dengan peluhnya sendiri.

Tuhan tak pernah diam dan membiarkan dua anak luar biasa ini menghadapi cobaan hidup sendirian. Ada saja pertolangan yang diberikannya lewat orang - orang yang tak terduga.

Indri dan Nando memiliki keluarga yang benar - benar peduli dengan mereka. Meski keluarga itu tidak memiliki pertalian darah sama sekali dengan mereka. Indri dan Nando memiliki kakak - kakak dari sebuah komunitas jurnalis perempuan di Medan. Di rumah - rumah kakak - kakak jurnalis inilah, Indri dan Nando pernah tinggal.

Namun sekarang Indri dan Nando tinggal di rumah kontrakan yang berada persis di belakang rumah milik saudara dekatnya. Saudara dekatnya itu, menolak Indri dan Nando tinggal di rumah besar miliknya.

Berkat perkenalan dengan kakak - kakak jurnalis pada November 2010, perawatan Nando mulai mendapat perhatian serius. Pengobatan rutin dan penanganan khusus yang lebih baik mereka upayakan untuk kesehatan Nando. Sejak saat itu, mereka rutin mendampingi perawatan Nando dan memastikan pendidikan untuk Indri.

"Aku ingin seperti kakak - kakak wartawan," kata Indri menjawab pertanyaan mengapa dirinya mengambil kuliah khusus jurnalistik. Meskipun awalnya Indri marah dan takut setiap menghadapi wartawan karena selalu dimanfaatkan untuk objek berita tanpa tindak lanjut yang berarti.

Sekarang kuliah Indri sudah semester 4. Selain kuliah, Indri juga bekerja sekaligus menjadi relawan di sebuah LSM yang menangani permasalahan HIV/AIDS di Medan.

Kembali lagi pada persoalan kekinian yang mereka hadapi, yaitu tempat tinggal. Inilah persoalan berat yang kini mereka hadapi. Indri harus menguras otaknya lebih dalam, berpikir bagaimana mendapatkan uang lebih banyak.

Indri adalah tulang punggung bagi dirinya sendiri dan adiknya. Indri harus pandai - pandai membagi uang; kebutuhan bagi perobatann adiknya, biaya makan sehari - hari, biaya untuk keperluankuliah, dan rumah kontrakan. Ini berat, tentulah sangat berat apalagi untuk gadis seusianya.

Kita Peduli!

Kita yang diberikan Tuhan kehidupan yang lebih beruntung dan terkadang menggerutui hidup, sudah sepatutnya belajar dari ketegaran Indri dan Nando. Belajar malu meminta - minta, sementara kaki dan tangan masih kuat. Belajar malu putus asa, malu menjadi pemalas, malu mengutuk keadaan, malu jadi sampah masyarakat.

Kita yang diberikan Tuhan kesehatan dan rezeki yang lebih baik, bisakah kita berdiam diri menyaksikan penderitaan yang mereka jalani? Kita malu menjadi orang yang tak acuh, kita malu berdiam diri dan hanya menikmati kebahagian seorang diri, sementara Indri dan Nando berjuang melawan detik demi detik yang membawa segala kemungkinan terburuk bagi hidup mereka. Kita malu karena tidak berbuat apa - apa.

Kita bangga menjadi orang yang peduli. Bangga menyatukan hati merasakan penderitaan Indri dan Nando. Bangga mengulurkan tangan dan bantuan sekecil apapun untuk mereka. Perhatian dan kepedulian kita akan berarti bila diwujudkan dan diberikan pada dua anak hebat luar biasa, Indri dan Nando. Kita peduli, kita bergerak. Kepedulian sebatas bibir tak lebih dari sebuah "omong kosong" yang diucapkan oleh aktor di sebuah panggung drama.

Wednesday, March 26, 2014

Penghargaan

Gadis kecil itu sumringah, tulang pipinya meninggi seiring bibirnya yang merekah indah. Gadis itu baru saja mendapatkan pujian dari seorang yang tak ia kenal. Pujian atas gambar atau lebih tepat coretan di atas kertas yang saban hari dibuatnya. Pujian yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.

Gadis itu bingung, dirinya tiba - tiba merasa hebat. Selama ini dirinya hanya merasa sebagai pelengkap manusia yang diciptakan Tuhan untuk memenuhi panggung sandiwaranya. Tidak memiliki peran apapun kecuali sebagai peramai dalam satu adegan. Tak lebih.

Namun, kalimat yang diucapkan pria yang sambil lalu itu seolah memberinya peran utama dalam panggung sandiwara tersebut.

"Apa yang kau buat itu sangat bagus, membuatku sungguh terkagum."

Kalimat itu terus mengiang di benaknya. Semangatnya membuncah, merasa diri lebih berharga. Ia membuka kembali kertas - kertas kosong miliknya dan mulai mencoretainya dengan semangat yang luar biasa. Tangannya ligat, imajinasinya semakin liar.

"Ternyata karyaku ada yang suka," kata gadis itu tanpa berhenti mencoret.

Sungguh, kata - kata yang terduga itu seakan mengubah hidupnya. Tak peduli apakah kalimat itu hanya sekedar "basa - basi" atau hanya sekedar ucapan sampah dari seorang yang sama sekali tak mengenal karya seni. Namun yang pasti, kalimat itu mengubah semangat hidup gadis kecil yang selama ini merasa terpinggirkan.

Saturday, March 22, 2014

Masalah

"Hei you, We give you a live because We know you have strong enough"

Begitulah bunyi kata - kata yang tertulis di kaos ablongan hitam murahan milik seorang kuli bangun. Tulisan tersebut tampaknya mewakili kisah pemakainya. Juga seolah menyindir siapa saja yang melihatnya, siapa saja yang menggerutui hidup, siapa saja yang mengutuk dan menghujat Tuhan atas sebuah kehidupan yang tak mudah.

Tiada kehidupan tanpa masalah, manusia tanpa masalah itu gila. Tapi tak cukup banyak orang yang berani menjadi gila karena untuk menjadi gila pun, manusia harus mengalami segunung masalah terlebih dahulu, itu pun jika beruntung.

Masalah itu bisa menjadi teman, bisa juga lawan. Tergantung manusia mau pilih yang mana. Berdamai dengan masalah akan menjadikan manusia lebih kuat dan bijak, begitu pula sebaliknya.

Manusia hanya harus mempelajari bagaimana menempatkan masalah itu di tempat yang benar. Sayangnya banyak yang tak mau belajar, sehingga membuat masalah lebih besar karena menimpakannya pada situasi dan tempat yang tidak tepat.

Banyak manusia yang meletakkan egonya di atas akal. Melimpahkan masalahnya pada manusia lain, dengan harapan egonya terpuaskan. Memanjakan amarah dan mengagung - agungkan emosi. Berpikir dialah satu - satunya manusia yang memiliki masalah dan kedua hal tersebut. Merasa berhak menekan dan memaksa manusia lain untuk menerima porsi masalahnya tersebut.

Celakalah manusia yang tak tahu menempatkan masalah dan amarahnya dengan tepat. Dan membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi.

"Hadapi dan selesaikan masalah dengan tuntas, jangan sisakan amarahnya pada orang lain" kata angin.

Thursday, March 20, 2014

Menggugat Kesombongan

Lihat lidahmu, bisakah kau membuatnya?
Jika bisa, baru kau boleh berkata lantam dan menghina sesamamu.

Dengarkan suaramu, bisakah kau menyatukan setiap bunyi dengan batang leher?
Jika bisa silahkan kau membentak - membentak sesama dengan alasan apapun.

Lihat tanganmu, bisakah kau menyatukan tulang dengan daging sedemikian rupa?
Jika bisa, maka kau boleh menggunakannya sesuka hatimu.

Lihat otakmu, bisakah kau merakitnya sedemikian rupa?
Jika bisa, baru kau boleh membodoh - bodohi sesamamu, tetapi gunakan lidah yang kau buat sendiri.

Lihat dirimu, apa yang kau miliki sepenuhnya?
Kau, dia, mereka dan aku sama. Tidak punya apa - apa. Semuanya pinjaman. Lantas apa yang patut kau sombongkan?

Hei kau, kenapa kau begitu berani memaki, menghina, membentak manusia yang tidak berbeda sedikitpun denganmu?

Hei kau, kenapa kau begitu angkuh padahal setitik darahpun tak mampu kau buat sendiri?

Kau manusia sombong! Bermodalkan pinjaman yang diberikan lebih oleh Tuhan, kau seenak - enaknya meninggikan suara pada mereka yang dipinjami lebih sedikit oleh Tuhan.

Gunakan otakmu yang sedikit itu untuk berpikir, mengapa kau harus sombong.

Saturday, March 15, 2014

Wanita

Duma lupa kodratnya sebagai wanita. Agama dan adatnya mengajarkan posisinya harus berada di belakang laki - laki bukan di depan. Duma juga lupa, perannya dalam keluarga dan pekerjaan tak boleh selangkah di depan imamnya.

Duma kesal. Ia melihat jauh ke dalam dirinya yang begitu keras dan sulit sekali diberi pemahaman akan kodratnya itu. Duma teringat, dulu sewaktu kecil, pernah mengumpat ibunya yang melahirkannya sebagai anak perempuan.

Duma marah. Kebebasannya untuk bermain tidak sebebas dengan teman - teman lelakinya.  Sekarang, setelah dewasa pun, masyarakat di negaranya masih memposisikan wanita di nomor dua. Kesetaraan gender yang dikoar - koarkan aktivis perempuan nyatanya belum dapat diterima seutuhnya.

Duma memandangi seabrek tumpukan pakaian kotor, rumah seperti kapal pecah, mempersiapkan segala kebutuhan suami sebelum berangkat kerja, memastikan kenyamanannya sebelum berangkat dan pulang ke rumah di malam harinya.

"Inilah kodratku," kata Duma.

Duma menyingsingkan lengan bajunya. Mulai bekerja. Dalam benaknya terus terngiang - ngiang pesan sang suami.

"Jadikan rumah sebagai tempat yang paling nyaman untuk ku kembali. Itulah tugasmu."

Duma merekam pesan itu kuat - kuat agar tak pergi dari ingatannya. Oleh karena itu, Duma matian - matian membuat suasana rumahnya senyaman mungkin. Nyaman dari segala hal, terutama persoalan rumah tangga yang disebabkan oleh masalah hati. Inilah tugas utama Duma selain pekerjaan rumah lainnya.

Duma selalu iri dengan aktivitas suaminya di luar sana. Aktivitas suaminya bersama teman - temannya. Suaminya selalu bangga memposting segala kegiatannya bersama teman - temanya, tetapi tidak dengan dirinya. Duma kerap memandangi foto suaminya itu, sembari berharap dirinya juga bisa seperti teman - temannya itu, terutama teman wanitanya.

Pada dirinya sendiri, Duma selalu bertanya, kenapa suaminya tak sebegitu bangga memposting segala kegiatan mereka berdua seperti dengan teman - temannya itu. Duma takut mempertanyakan perihal tersebut pada suaminya karena khawatir merusak kenyamanan yang selalu diwanti - wanti suaminya.

Duma mampu menyelesaikan semua pekerjaan rumah dan tugas - tugas kantornya dengan sangat baik. Tetapi Duma bingung kenapa dirinya tidak mampu menyelesaikan persoalan hatinya yang terus menerus mempertanyakan kekodratannya tersebut.

Berulang kali Duma memperingatkan dirinya akan kodrat tersebut dan berusaha menerima sepenuhnya dalam setiap sikap dan tindakan. Tetapi masih saja gejolak pertanyaan - pertanyaan serupa membara di dalam dirinya.

"Aku seorang wanita. Tanggung jawabku lebih besar daripada seorang lelaki manapun. Aku mampu menyelesaikan pekerjaan rumah dengan baik, begitu juga dengan tugas - tugas dari kantor tempatku bekerja.

Aku harus bangun lebih pagi mempersiapkan segala kebutuhan suami. Mengutamakannya dalam segala hal. Baru setelah itu mengurusi kepentinganku sendiri. Untuk itu semua, harusnya aku bangga."

Sama seperti suaminya, Duma juga bekerja. Tetapi waktu yang dimilikinya diluar sana tidak boleh sama dengan suaminya. Suaminya memiliki waktu yang tak terbatas. Sementara Duma, sebagai wanita, tidak baik berada di luar rumah pada larut malam, begitu kata orang - orang dan suaminya.

"Ah sudahlah," kata Duma mengakhiri perdebatan dalam dirinya. "Sudah seharusnya kita sepakat untuk menerima dan memahami semua ini," kata Duma pada sosok - sosok aneh didalam dirinya yang tak berhenti mengkonfrontirnya dengan pertanyaan - pertanyaan serupa.