Wednesday, August 13, 2014

Mara

Namanya Mara. Seorang kakak yang manis. Adik yang sedang digendongnya itu pun tak kalah manisnya.

Mereka bersama dengan sejumlah orang lainnya sedang berkumpul dan bermain di sebuah lapangan desa. Lapangan rumput yang biasa digunakan warga kampung untuk menghabiskan waktu senggang.

Disana banyak orang. Tidak hanya anak - anak tetapi juga orang tua. Di satu sudut lapangan, seorang ayah dan gadis kecilnya bersenda gurau. Gadis itu terbahak - bahak saat ayahnya melambungkannya ke udara ataupun berpura - pura mengejarnya. Pemandangan itu indah sekali.

Di satu sudut yang lain. Mara memperhatikan ayah beranak itu. Adiknya tak peduli dengan apa yang menarik perhatian Mara. Dia asik bermain dengan batu - batu kecil.

Pandangan Mara tidak lepas dari mereka. Ayah beranak itu bahagia sekali. Saling memeluk dan mencium. Sang ayah tidak sedikitpun membiarkan anaknya terluka dari apapun. Dia menjaganya dengan penuh perhatian.

Mata Mara tiba - tiba berlinang. Hatinya nelangsa. Mungkin lebih tepatnya tersayat. Emosinya terusik. Dia kemudian bangkit dan menggendong adiknya, membawanya pulang. Dia berjalan dengan cepat dengan dada menyesak.

Sesampainya di rumah, Mara tak tahan menahan tangis. Emosinya meledak lewat air matanya yang terus jatuh. Sang adik yang masih digendongannya bingung, mungkin iba ntah pun takut melihat kakaknya menangis. Tanpa alasan yang jelas, ia pun menangis.

Melihat kedua anaknya menangis, ibu mereka bertanya, "kenapa kalian nangis?" Mara menjawab, "Anak itu sangat disayang sama ayahnya. Tapi adik kok enggak..."

Ibu itu hanya diam. Kepalanya tertunduk dan berusaha menyembunyikan emosi yang terpancar dari rawut wajahnya saat itu dari Mara yang masih senggugukan.

Pematang Sijago, di suatu petang.