Monday, June 8, 2015

KAKTUS

Barangkali Tuhan sedang mengujinya dengan memberikan kaktus. Tanaman berduri yang bahkan tak elok dipandang mata, tak jua bersahabat jikalau disentuh. Kaktus, sama halnya seperti perempuan itu, tidak menarik. Hidup di tanah gersang nan kering. Hidup menyendiri diluar koloni. Menjauh ataupun dijauhi. Berdiri mencolok di tengah padang gurun. Sendiri, tak lantas membuatnya goyah.

"Tuhan, tak adakah yang lebih baik bagiku selain kaktus?" umpatnya.

"Ah, betapa keangkuhan membuatmu besar kepala. Memangnya kau siapa? Bahkan kau tak lebih baik dari kaktus itu sendiri," hardik sebuah suara yang berasal dari dalam dirinya sendiri.

Perempuan itu marah, ntah pada siapa, mungkin Tuhan. Namun, apa gunanya marah pada Tuhan. Toh ia tidak akan menggubris keluhan manusia yang menempatkanNya pada urutan kesekian dalam hidupnya. Pun begitu biarlah, setidaknya ia masih percaya Tuhan itu ada.

Lantas mengapa Tuhan memberinya kaktus? 

"Barangkali kau disuruh berpikir," kata suara itu lagi.

Berpikir tentang apa? Hidup? Bukankah dalam setiap jengkal nafas telah dimaktubkanNya kisah dan takdir? Atau tentang kaktus? Si berduri buruk rupa yang hidup menyendiri di tanah yang gersang.

"Tak kah kau lihat? Kaktus si buruk rupa yang kau caci itu lebih baik darimu? Kaktus selalu memuja Tuhan karena hidup yang diberikanNya. Jika kaktus itu diberi kesempatan untuk memilih; tetap menjadi kaktus atau manusia, dapat ku pastikan ia akan memilih yang pertama. 

Tak kah kau lihat, bagaimana mahkluk hidup dapat bertahan di tanah segersang demikian? Pernahkah kau berpikir? Kaktus tetap dapat tumbuh dengan berbagai warnanya yang indah. Dijauhi karena dianggap berbahaya. Dihindari karena dianggap tak memberi manfaat walau sekedar kesenangan mata.

Kau terlalu picik! Sama seperti kebanyakan manusia lainnya. Memelihara prasangka buruk, sehingga hatimu tertutup dengan kebencian. Bersyukurlah wahai kaktus! Sebab kau tak punya mulut seperti manusia. Mulut yang hanya bisa berkeluh, mulut yang hanya gemar berkata buruk, mulut yang menganggar kesombongan, mulut yang haahh, maafkanlah, tak lebih baik dari kotoran."

Senyap.

Segurat warna - warni indah menyumbul dari balik dedurian kaktus. Kaktus dengan kerendahan jiwanya mempersembahkan kelopak demi kelopak yang nian cantik pada perempuan itu. Kaktus yang lain bahkan mempersembahkan buahnya tanpa menuntut pengakuan apapun dari perempuan yang menyepelekan mereka.

Begitulah kaktus.

Di malam yang dicemari keangkuhan.
Medan.