Di satu sudut pusat kota Jakarta, siang Jumat yang mendung. Puluhan manusia pekerja menuju titik - titik kawasan yang menawarkan berbagai pemuas lidah dan perut yang kelaparan.
Di satu sudut itu berjajar puluhan steling dan warung makanan. Masing - masing mereka bersaing merangsang liur pencecap mereka yang wara - wiri mencari yang terlihat paling menggoda.
Lelaki di belakang steling itu sibuk dengan tungku pemanggangnya. Mengipas - ngipaskan asap bearoma ayam dan ikan berbumbu. Mataya tajam dan liar menangkap wajah lapar manusia - manusia pekerja itu.
Perawakannya sedang, kulitnya legam. Entah karena panasnya matahari, entah juga karena panasnya api pemanggang atau mungkin sudah dari orok. Tetapi yang pasti, kulit hitamnya menguatkan garis sangar di wajahnya.
Tatapan mata dan asap beraroma sedap itu ampuh menarik selera pembeli. Kursi di depan steling nya mulai terisi dan hampir penuh. Tangannya semakin kencang menggoyang kipas di atas panggangannya.
Urat tangan dan mukanya timbul. Matanya semakin awas menangkap meja yang masih kosong. Sesaat matanya berhasil menangkap mataku. Entah apa yang membuat otakku menangkap lelaki itu dengan sosok brandal.
Dari sudutku, lelaki itu jelas terlihat. Tiada henti tangannya mengipas, matanya memerah karena asap. Sementara Satu tangannya mengipas, tang an lainnya mengoleskan bumbu yang menguatkan rasa dan aroma.
Ada seorang wanita, berperawakan kecil menggendong gadisnya berumur sekira 2 tanun. Wanita itu melempar senyum pada lelaki di balik pemanggang itu. Gadis kecilnya juga begitu.
Gadis kecil yang ceria itu menggelinjang dari gendongan ibunya dan merangsek turun. Ia tertawa - tawa dan berlari ke arah pemanggangan. Lelaki yang tengah bergumul dengan asap itu melepaskan kipasnya. Ia menunduk, merentangkan tangan, dan menangkap gadis kecil yang berlari ke arahnya.
Mereka tertawa bersama, begitu juga wanita yang berdiri dibalik stelingnya. Lelaki itu menciumi gadisnya tanpa menghiraukan aroma gosong yang mulai tercium dari pemanggangan.
Ketika bau mulai menyengat, baru ia mengalihkan pandangannya dari di basis. Iya kembali mengipas dengan gadis kecil yang masih berada di gendongannya. Dengan hanya satu tangan, ia menyelesaikan pekerjaannya.
Ia kemudian melanjutkan gurauannya pada sang gadis kecil. Ia terlihat membetulkan baju, memakaikan sendal, dan merapikan rambut gadis yang tak hentinya terse yum itu. Ia juga menghalau nyamuk yang mencoba mendekati gadis itu.
Andri, lelaki berwajah tegas dan kulit legam itu menjadi lembut ketika bersama gadis kecil itu. Mata dan garis wajahnya tak sekeras saat ku melihatnya. Ia terlihat begitu berbeda.
Matanya menjadi begitu teduh, senyumnya sumringah. Kulit legamnya membuat ia terlihat manis. Ayah itu tak berdaya di hadapan gadis kecilnya, bahkan sekedar memasang wajah lelah pun ia tak mampu apa lagi sangar seperti persepsiku tadi.
Jakarta, 070214.
No comments:
Post a Comment