Thursday, June 19, 2014

ANITA


Wanita itu menangis tanpa suara. Air matanya mengalir bersama derasnya air hujan yang menghantam kepalanya. Gelapnya dini hari kian menambah sendu. Air matanya mengalir lebih deras, seolah tak mau kalah dengan air hujan.

Dingin. Udara pagi dan hujan itu membekukan kakinya. Wanita itu terus berpacu di atas tanah berlumpur bercampur kerikil. Tali sendal swallow yang digunakannya nyaris putus. Kerikil - kerikil kecil nan tajam terus menghujam kakinya dari balik tapak sendal yang telah menipis.

Mulutnya terkatup, mungkin menahan agar air hujan tak semakin banyak masuk. Lututnya menggigil, namun hatinya tak mau dikalahkan oleh keadaan yang begitu kejam. Tubuh gempal wanita berusia kepala empat itu hampir roboh menahan beban.

'Harus sampai'. Ia harus bergegas, ikan dalam petinya harus segera dijajakan. Mata hari mulai menyembul dari kejauhan timur. Jika terlambat barang sebentar saja, maka pelanggannya akan meninggalkannya. Namun sepeda motor butut yang tinggal kerangka - hampir menyerupai sepeda dayung itu, sedang "ngambek". Mungkin terlalu letih menuruti kemauan wanita itu.

Matahari telah terbit. Pasar itu sudah sepi. Wanita itu menyusun ikan - ikannya di atas lapaknya. Sekian lama menanti, pembeli tak juga kunjung datang. Mata hari pun kian meninggi. Bajunya sudah kering di badan. Lalat hijau mulai menghampiri ikan - ikannya.

Hatinya kembali nelangsa. Namun stok air matanya telah habis. Ikan - ikan itu tidak laku. Tak ada duit untuk membayar pada taukeh ikan. Tapi itu tak masalah, ia masih bisa berkelit dari hujatan. Yang jadi masalah adalah perut ketiga anaknya yang menanti di rumah.

Kenyataan ini membuatnya takut kembali ke rumah. Takut melihat anaknya merengek karena sakit menahan lapar. Takut dirinya tak sanggup menahan duka dalam rumah yang hampir roboh itu. Hatinya menghujat, ntah siapa. Mungkin ayah anak - anaknya yang ntah dimana, mungkin juga Tuhan.

'Jika aku terlalu berdosa untuk Kau tolong, maka tolonglah anak - anakku yang masih bersih dari dosa. Mereka hanya ingin makan, hanya ingin hidup sampai besar. Ingin melihat betapa indah dan kayanya duniaMu. Walau tak dapat menikmati itu semua, paling tidak mereka dapat turut bahagia melihat pejabat - pejabat kaya, koruptor - koruptor itu tertawa bahagia. Dan jika beruntung dapat melihat mereka mati kekenyangan memakan duit haram'

Anita menguatkan hati, menegakkan kepala, mendorong kembali motor butut itu menuju rumah reoknya. Dimana tiga anak kecil menunggu dengan rasa lapar yang memerih hulu hati.

No comments:

Post a Comment