Wanita itu menangis tanpa suara. Air matanya mengalir
bersama derasnya air hujan yang menghantam kepalanya. Gelapnya dini hari kian
menambah sendu. Air matanya mengalir lebih deras, seolah tak mau kalah dengan
air hujan.
Dingin. Udara pagi dan hujan itu membekukan kakinya. Wanita
itu terus berpacu di atas tanah berlumpur bercampur kerikil. Tali sendal
swallow yang digunakannya nyaris putus. Kerikil - kerikil kecil nan tajam terus
menghujam kakinya dari balik tapak sendal yang telah menipis.
Mulutnya terkatup, mungkin menahan agar air hujan tak
semakin banyak masuk. Lututnya menggigil, namun hatinya tak mau dikalahkan oleh
keadaan yang begitu kejam. Tubuh gempal wanita berusia kepala empat itu hampir
roboh menahan beban.
'Harus sampai'. Ia harus bergegas, ikan dalam petinya harus
segera dijajakan. Mata hari mulai menyembul dari kejauhan timur. Jika terlambat
barang sebentar saja, maka pelanggannya akan meninggalkannya. Namun sepeda
motor butut yang tinggal kerangka - hampir menyerupai sepeda dayung itu, sedang
"ngambek". Mungkin terlalu letih menuruti kemauan wanita itu.
Matahari telah terbit. Pasar itu sudah sepi. Wanita itu
menyusun ikan - ikannya di atas lapaknya. Sekian lama menanti, pembeli tak juga
kunjung datang. Mata hari pun kian meninggi. Bajunya sudah kering di badan.
Lalat hijau mulai menghampiri ikan - ikannya.
Hatinya kembali nelangsa. Namun stok air matanya telah
habis. Ikan - ikan itu tidak laku. Tak ada duit untuk membayar pada taukeh
ikan. Tapi itu tak masalah, ia masih bisa berkelit dari hujatan. Yang jadi
masalah adalah perut ketiga anaknya yang menanti di rumah.
Kenyataan ini membuatnya takut kembali ke rumah. Takut
melihat anaknya merengek karena sakit menahan lapar. Takut dirinya tak sanggup
menahan duka dalam rumah yang hampir roboh itu. Hatinya menghujat, ntah siapa.
Mungkin ayah anak - anaknya yang ntah dimana, mungkin juga Tuhan.
'Jika aku terlalu berdosa untuk Kau tolong, maka tolonglah
anak - anakku yang masih bersih dari dosa. Mereka hanya ingin makan, hanya
ingin hidup sampai besar. Ingin melihat betapa indah dan kayanya duniaMu. Walau
tak dapat menikmati itu semua, paling tidak mereka dapat turut bahagia melihat
pejabat - pejabat kaya, koruptor - koruptor itu tertawa bahagia. Dan jika
beruntung dapat melihat mereka mati kekenyangan memakan duit haram'
Anita menguatkan hati, menegakkan kepala, mendorong kembali
motor butut itu menuju rumah reoknya. Dimana tiga anak kecil menunggu dengan
rasa lapar yang memerih hulu hati.
No comments:
Post a Comment